“Seandainya nangis dapat
nyelesein masalah.”
Pasti
diantara kalian pernah ada yang mikir kayak gitu atau bahkan masang status di
facebook dan media sosial lainnya supaya orang-orang tau lo sedang berduka,
ngaku! Dan tentu saja itu adalah hal yang pernah gue alami hehehe. Tenang, itu
bukan alay ko. Itu proses, selama nggak keterusan yah.
Dulu
pas jaman SMA dan patah─hati─versi─alay─melanda─hati,
nggak di rumah, nggak di sekolah, atau bahkan di supermarket, gue dengan
mudahnya mengeluarkan air mata berharga itu hanya karena patah hati. Kalo
dipikir-pikir sekarang, “Oh my, dulu gue alay banget.” Tapi yah, hampir semua
orang pernah kayak gitu. Menurut gue itu proses sebelum kita benar-benar
menjadi dewasa seperti sekarang, dan gue menikmati proses itu.
Sekitar
sebulan yang lalu Rara Amita Putri, sohib gue di kampus, pernah nampar gue
dengan SMS-nya yang terdengar begitu keji─ditelinga gue. Wajar sih, sebulan yang lalu, eh nggak!
Lima menit sebelum mulai menulis draft ini, gue masih berpikir satu kalimat
alay yang ada di atas (itu loh yang font-nya paling gede). Entah itu nangis,
berharap masalah gue selesai, hilang, musnah, jdarrr! begitu saja tanpa pernah
belajar untuk keluar dari masalah itu, atau curhat ke orang-orang tentang
penderitaan yang gue alami seakan-akan gue adalah manusia paling menderita di
dunia yang menurut gue tidak adil ini, apdet status, dan sebagainya. Tapi, ada
dua kalimat dari SMS Rara yang menyadarkan kalo masalah-masalah yang sedang gue
alami sekarang bisa terselesaikan tanpa harus mengeluh atau menangis. Ini bunyi
SMS-nya.
Jun 07 2013 17:24
From: Rara
Win, saya
memang bukan *sensor* (ehm, anggep aja ini nama cowo yang gue taksir) yang
sebenarnya. Tapi saya harap kamu bisa menerima saya yang mencoba menjadi dia.
Saya
tidak tau bagaimana perasaan kamu ke saya, suka atau sayang itu kamu yang tau.
Tapi jika seandainya kamu memang suka, saya sangat apresiasi. Tapi bukan dengan
kata terimakasih atau perhatian yang mungkin kamu harapkan.
*sensor* (ini...
panjang banget paragrafnya dan agak melipir-melipir ke masa lalu jadi tolong
abaikan)
Nggak usah
menye atau lenje kalau saya cuek. Kamu harus kuat. Karena saya dan laki-laki lain butuh wanita kuat di
belakang kami.
Tolong
abaikan isi dan maksud sebenarnya dari SMS itu. Mari kita lihat kalimat terakhir
yang gue stabilo pake warna biru muda (sengaja di masukin agak lengkap SMS-nya,
biar nama Rara terkenal di blog gue sebagai tipe-ex atau seseorang yang hobi
sekali menyadarkan dan menarik kita dari zona pengharapan yang berlebihan
hahaha). Kalimat itu nusuk banget dan mengingatkan gue sama film Habibie &
Ainun yang belum lama ini tayang. Di film itu terlihat kalo almarhumah Ainun
adalah salah satu contoh wanita yang kuat atau bahkan sangat kuat─yang ada di belakang laki-laki hebat, yaitu Habbie─dibandingkan dengan remaja-remaja jaman sekarang dan
tentu saja gue─lima
menit yang lalu *sengaja pake underline*
#bangga.
Salah
satu lagu Sheila on 7 yang judulnya Berhenti Berharap dengan jelas menunjukkan
bahwa band sekeren Sheila On 7 juga pernah mengalami proses patah─hati─versi─alay─melanda─hati di hidupnya.
Mengapa ada derita, bila bahagia tercipta
Mengapa ada sang hitam, bila putih menyenangkan
Tapi,
apa yang membuat gue dan band SO7 sembuh dari patah─hati─versi─alay─melanda─hati? Karena kami belajar dan melihat peluang dari
masalah kami yang ternyata ada hikmah di baliknya. SO7 mengalihkan masalahnya
dengan membuat lagu Berhenti Berharap dan oh my, lagu itu keren banget dan
masih asik didenger sampai sekarang. Sedangkan gue, mengalihkan masalah yang
sedang gue hadapi sekarang dengan nulis draft ini, ini bisa ngebuat blog gue
banyak yang mampir terus follow hahaha #ngarep. Selalu ada hikmah di balik semua masalah. Tinggal
bagaimana diri kita mencari hikmah itu, belajar darinya, dan menjadikannya
peluang.
Sekarang balik ke pertanyaan di atas, apa
jadinya kalo nangis dapat nyelesein masalah? Mungkin nggak akan ada yang berdoa
ke Tuhan tentang masalahnya, mungkin nggak akan ada yang berusaha untuk menyelesaikan
masalahnya, dan mungkin hidup ini akan jadi lurus-lurus aja dan nggak ada
tantangannya. Karena dengan menangis... jdarrr! semua masalah hilang dan
terselesaikan.

Ketika
kamu merasa sedih, ketika kamu merasa dunia nggak berpihak ke kamu, dan ketika
kamu merasa kamu nggak bisa menyelesaikan masalah yang menurutmu sangat berat,
tersenyumlah. Karena masih banyak orang yang bahkan dalam menjalani
hari-harinya ia tidak pernah tenang untuk tidur, makan, atau melakukan apapun
dengan bebas karena terjadi peperangan di negaranya. Atau bahkan ada orang yang
sulit sekali untuk menjalankan ibadah dan kewajiban-kewajibannya sebagai umat
beragama karena ia, bersama orang-orang di belakangnya, adalah kaum minoritas
yang terjajah.
Jadi,
tolong pikirkan lagi. Ketika
kamu ingin sekali mengeluh, menangis, dan merasa bahwa ini tidak adil, tersenyumlah.
Karena dunia terlihat indah dan berbeda saat kamu tersenyum. Tersenyumlah,
karena dunia membutuhkan senyum dan semangatmu :)
“Semua
akan indah pada akhirnya, kalau belum indah maka belum akhir.”
Y -
No comments:
Post a Comment