Waktu kecil, selain main sama
temen, nonton Teletubbies, dan main Barbie, salah satu kebiasaan jelekku
adalah amat sangat sering jatuh dan terluka #apabanget. Dari semua kejadian
jatuh yang terjadi saat aku kecil, ada satu kejadian jatuh yang sebenernya agak
menggelikan dan sekarang terulang lagi. Bekas luka dari ‘kecelakaan’ itu masih
ada di tumit kananku.
Tapi hebatnya, disaat temen-temen aku masuk rumah sakit karena Thypus, DBD, dan penyakit lainnya yang mengharuskan mereka di Opname, aku cuma bisa iri saking pengennya nginep di Rumah Sakit. Saking nggak pernahnya ke rumah sakit dan ngerasain jarum suntik selain di posyandu, aku pernah nanya sama Ibuku, “Bu, ko Winna nggak pernah nginep di rumah sakit sih?” yang langsung disambut jitakan Ibuku.
Tapi hebatnya, disaat temen-temen aku masuk rumah sakit karena Thypus, DBD, dan penyakit lainnya yang mengharuskan mereka di Opname, aku cuma bisa iri saking pengennya nginep di Rumah Sakit. Saking nggak pernahnya ke rumah sakit dan ngerasain jarum suntik selain di posyandu, aku pernah nanya sama Ibuku, “Bu, ko Winna nggak pernah nginep di rumah sakit sih?” yang langsung disambut jitakan Ibuku.
***
16.30 WIB
Sekitar awal tahun
2000
Komplek
BLKI, Cijantung, Jakarta Timur
Sore itu, aku, Puput, Mbak Enang, dan Mbak Lina sedang bermain sepeda di komplek rumah kami. Aku dan Puput dengan sepeda roda tiga kami masing-masing–kami masih berumur 5 tahun. Sedangkan Mbak Enang dan Mbak Lina, yang berbeda 6 tahun dari kami, menggunakan sepeda roda dua.“Eh! Kita lomba yuk!” seru Mbak Enang.
Sore itu, aku, Puput, Mbak Enang, dan Mbak Lina sedang bermain sepeda di komplek rumah kami. Aku dan Puput dengan sepeda roda tiga kami masing-masing–kami masih berumur 5 tahun. Sedangkan Mbak Enang dan Mbak Lina, yang berbeda 6 tahun dari kami, menggunakan sepeda roda dua.“Eh! Kita lomba yuk!” seru Mbak Enang.
“Ayo! Ayo! Lombanya ngapain mbak?” Puput keliatan tertarik sekali.
Mbak Enang hanya tersenyum misterius. Ia membawa kami ke jalan menurun yang sangat curam dan diakhiri dengan belokan ke kiri yang tajam. “Itu,” tunjuknya bersemangat, “satu-satu nurunin jalur itu pake sepeda masing-masing dan nggak boleh direm. Gimana?”
“Ayo!” seru Mbak Lina.
“Sip! Sip!” ucap Puput nggak kalah semangat.
“Win gimana? Mau ikut nggak?” Mbak Enang menyadarkanku dari lamunan panjangku yang masih setengah ngeri membayangkan harus menuruni jalur itu tanpa direm dan memang sepeda roda tiga nggak ada remnya.
“Hah?” aku melihat jalur menurun itu dengan ragu-ragu dan memandangi mereka satu persatu yang memasang wajah menagih jawaban.
“Ikut deh,” ucapku masih ragu sambil mengangguk.
“Oke. Aku pertama ya!” seru Mbak Enang.
“Kedua ah kedua,” itu Mbak Lina.
“Nggak mau terakhir! Winna terakhir nggak apa-apa kan?” Tanya Puput sambil memasang tampang memelas.
Aku tersenyum, “Nggak apa-apa kok.” Walau sebenarnya dalam hati masih deg-degan.
“Oke! Kalo gitu mulai ya!”
Mbak Enang mengambil ancang-ancang lalu sepedanya meluncur turun dengan sukses. Dengan lincah, Ia membelokkan setirnya ke arah kiri dan menghentikan sepedanya sebelum pohon bougenville menyembunyikan tubuhnya. “Yeeeey! Berhasil. Ayo, Lin selanjutnya.”
Mbak Lina dan Puput berhasil melewati ‘lomba’ tersebut, dan sekarang giliranku mencobanya. “Ayo Wiiiin, semangat!” Puput teriak menyemangatiku dari bawah sana. Sedangkan Mbak Enang dan Mbak Lina menungguku dengan senyumannya, sambil sesekali menyemangati.
Aku menarik napas panjang, berusaha melambatkan detak jantungku yang rasanya rewel sekali sore ini. Dan akhirnya aku mengikhlaskan sepeda roda tigaku meluncur turun dengan kecepatan yang lama kelamaan makin cepat. Bodohnya, karena takut, aku memejamkan mataku. Bisa ditebak apa yang terjadi selanjutnya.
“JDUUUUK!!”
“AAAAAA!!!”
Yap! Bukannya membelokkan sepedaku ke arah kiri, aku malah ‘membiarkannya’ tetap lurus dan menghantam kandang ayam yang ada dibalik pohon semak yang aku ‘terjang’. Hebat!
***
11.30 WIB
25 November 2013
Jalan
menuju kampus
Siang itu, dengan tingkat kegalauan yang setara dengan diputusin pacar, aku melaju menuju kampus menggunakan motor Giya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tiba-tiba rintik hujan mulai hadir dan membuat tingkat kegalauanku bertambah.
Siang itu, dengan tingkat kegalauan yang setara dengan diputusin pacar, aku melaju menuju kampus menggunakan motor Giya dengan kecepatan yang lumayan kencang. Tiba-tiba rintik hujan mulai hadir dan membuat tingkat kegalauanku bertambah.
“Argh! Pengolahan data gue! Jangan basah plis,” rengekku dalam hati.
Tapi, sepertinya semesta tidak mendengar jeritan kegalauanku yang disebabkan karena pengolahan data praktikum yang belum beres dan harus dikumpulkan pukul 13.00 ini. Nekat, karena kertas–pengolahan–data–yang–amat–sangat–berharga itu mulai dilanda kebasahan, aku menambah kecepatan motor Giya menjadi… entahlah aku nggak terlalu peduli saat itu, yang penting, “PENGOLAHAN DATA GUE NGGAK BOLEH BASAHHH!!!”
Sesaat sebelum masuk gerbang Unpad, dan hanya harus menghadapi satu belokkan lagi, aku hanya bisa pasrah menyadari kalau motor ini terlalu cepat sehingga aku nggak bisa menghindari sebuah gundukan semen abadi yang tergeletak di tengah jalan dan membuat motor Giya oleng. Panik, aku langsung mengerem motor itu secara brutal dan tidak anggun. Dan bodohnya, lagi-lagi aku memejamkan mataku secara otomatis, membiarkan diriku jatuh terseret ke pangkuan aspal dengan cara yang indah #halah.
Aku membuka mataku dan menyadari kalau sekarang aku sudah tengkurap di atas aspal. Mampus, jatohin motor orang #Panik1
Aku mencoba berdiri dan ternyata aku baru menyadari kalau kaki kananku tertindih motor. Aku mecoba mengangkatnya dan langsung meringis, sakit. Tiba-tiba aku mendengar suara motor yang datang ke arahku dan berharap ia mau berhenti dan menolong. Tapi, ternyata tidak! Sial! “AAAAA!!! Tolong nggak bisa bangun, sakit!!” aku mulai teriak-teriak pake echo brutal mencari perhatian, karena memang siang itu sangat sepi #Panik2
Secercah harapan muncul dengan hadirnya suara motor yang menuju ke arahku. Aku berteriak lebih keras lagi. Alhamdulillah, motor itu berhenti dan langsung membantuku untuk bangun bersamaan dengan datangnya satpam yang menjaga di pos gerbang kampus. Sesaat sudah berdiri aku baru menyadari kalau kaki kananku bener-bener nggak bisa dipijakkan ke aspal dan banyak darah disana. Rasa sakit langsung menjalar dan aku langsung menangis melihat keadaan kaki kananku yang mengenaskan. Darah dimana-manaaa! #Panik3
Dua satpam langsung menuntunku menuju mobil carry berwarna hijau tua yang langsung datang sesaat setelah aku di ‘bangunkan’. “Tolong ini bawa ke UPT! Cepet-cepet ini lukanya parah!” teriak seseorang. Oh my God, plis jangan ngomong gitu depan gueeeee! Semena-mena bikin tambah panik, pengen banget nyekek itu orang #Panik4
Aku langsung duduk diantara dua orang satpam masih dengan suara tangisan. Mobil mulai melaju dan aku risih dengan tatapan bapak-bapak sebelahku yang menatap wajahku dengan pandangan ngeri. Emang gue sejelek itu apa? Sesaat aku merasakan perih dan basah di bagian daguku. Dengan cepat aku memegang daguku, tapi ini bukan seperti dagu, ini seperti potongan daging ikan segar. Betapa indahnya dunia #Panik5
Mataku langsung berkunang-kunang, pusing. Aku langsung menghentikan tangisanku karena terlalu lelah dan lemas menyadari apa yang dimaksud ‘parah’ oleh orang yang teriak tadi, ternyata…
No comments:
Post a Comment