Rani terdiam. Sesaat ia tidak
percaya dengan kenyataan yang ada di pikirannya. Masalah yang selama ini ia
pikir hanya ‘praduga tak bersalah’ ternyata sekarang ia tahu bahwa dugaannya
benar. Lambat laun ia tenggelam dalam lamunan panjangnya, tak menghiraukan keramaian
yang ada disekitarnya. Lalu ia tertawa getir, menyadari kebodohannya.
“Ran, kamu kenapa? Jangan
ngelamun,” ujar teman disebelahnya, Dini. Saat ini memang sedang berlangsung
acara sharing yang diadakan
teman-teman seangkatannya di rumah Amel.
Rani hanya tersenyum dan
menggeleng, lalu ia langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.
“Dia kenapa?” Tanya temannya yang
lain, Amel.
Dini hanya mengangkat bahu
pertanda tak mengerti, “Nanti juga cerita,” lanjutnya yakin.
Sementara itu Rani membuka pintu
dapur dan mendapati nenek Amel sedang menikmati segelas kopi di meja makan.
Rani menutup kembali pintu dapur dan menghampiri nenek Amel dengan ragu lalu
tersenyum kepada nenek. Rani mencium tangan nenek cukup lama.
“Mau kemana?” tanyanya dengan
bahasa sunda yang kental.
Rani hanya diam dan langsung
memeluk nenek Amel. Entah lelah dengan semuanya, Rani mulai terisak di pundak
nenek Amel. Nenek Amel hanya bisa terdiam kaget dengan apa yang terjadi pada
Rani. Lalu nenek Amel tersenyum, “Nenek doain semoga kamu jadi orang sukses,
disayang sama orang tua, gampang jodoh…”
Rani terus menangis dan
menumpahkan semuanya. Sementara itu nenek Amel terus memanjatkan doa untuk Rani
dengan bahasa yang mulai tidak dimengerti Rani sambil sesekali mengelus rambut
Rani yang tergerai ke punggung.
Rani melepaskan pelukannya dan
terduduk di depan nenek Amel, melanjutkan tangisannya di pangkuan nenek Amel.
“Udah, jangan sedih. Kumpul lagi ya sama teman-teman kamu,” lanjut nenek.
Rani menghela nafas panjang dan
mendapati nenek sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya yang sudah
keriput. Rani tersenyum dan mencium tangan nenek Amel lagi, sebelum akhirnya ia
pergi.
***
Cerita tentang Rani di atas
sebenarnya fiksi. Berawal dari seorang rantauan yang merindukan pelukan seorang
ibu. Sosok yang sangat kuat, mengorbankan waktu dan mengurus semuanya; mulai
dari menjadi istri yang baik, mengurus anak, menjadi wanita career eight to five, memasak, mencuci,
dan segala macam pekerjaan berat yang di tanggungnya.
Sosok yang bahkan menyembunyikan
air matanya dari dunia dan memilih mencurahkannya di atas sajadah. Sosok yang
akan selalu mengerti apa yang ada di hati dan pikiran anaknya. Sosok yang
bahkan tetap mendoakan anaknya walaupun anak itu menyakiti hatinya. Sosok mulia
yang Allah ciptakan dengan surga di telapak kakinya. Sosok yang mempunyai
senyum dan pelukan yang hangat. Ibu J

No comments:
Post a Comment