Saturday, December 28, 2013

Tentang Rani

Rani terdiam. Sesaat ia tidak percaya dengan kenyataan yang ada di pikirannya. Masalah yang selama ini ia pikir hanya ‘praduga tak bersalah’ ternyata sekarang ia tahu bahwa dugaannya benar. Lambat laun ia tenggelam dalam lamunan panjangnya, tak menghiraukan keramaian yang ada disekitarnya. Lalu ia tertawa getir, menyadari kebodohannya.

“Ran, kamu kenapa? Jangan ngelamun,” ujar teman disebelahnya, Dini. Saat ini memang sedang berlangsung acara sharing yang diadakan teman-teman seangkatannya di rumah Amel.

Rani hanya tersenyum dan menggeleng, lalu ia langsung berdiri dan berjalan menuju dapur.

“Dia kenapa?” Tanya temannya yang lain, Amel.

Dini hanya mengangkat bahu pertanda tak mengerti, “Nanti juga cerita,” lanjutnya yakin.

Sementara itu Rani membuka pintu dapur dan mendapati nenek Amel sedang menikmati segelas kopi di meja makan. Rani menutup kembali pintu dapur dan menghampiri nenek Amel dengan ragu lalu tersenyum kepada nenek. Rani mencium tangan nenek cukup lama.

“Mau kemana?” tanyanya dengan bahasa sunda yang kental.

Rani hanya diam dan langsung memeluk nenek Amel. Entah lelah dengan semuanya, Rani mulai terisak di pundak nenek Amel. Nenek Amel hanya bisa terdiam kaget dengan apa yang terjadi pada Rani. Lalu nenek Amel tersenyum, “Nenek doain semoga kamu jadi orang sukses, disayang sama orang tua, gampang jodoh…”

Rani terus menangis dan menumpahkan semuanya. Sementara itu nenek Amel terus memanjatkan doa untuk Rani dengan bahasa yang mulai tidak dimengerti Rani sambil sesekali mengelus rambut Rani yang tergerai ke punggung.

Rani melepaskan pelukannya dan terduduk di depan nenek Amel, melanjutkan tangisannya di pangkuan nenek Amel. “Udah, jangan sedih. Kumpul lagi ya sama teman-teman kamu,” lanjut nenek.

Rani menghela nafas panjang dan mendapati nenek sedang mengusap air mata yang membasahi pipinya yang sudah keriput. Rani tersenyum dan mencium tangan nenek Amel lagi, sebelum akhirnya ia pergi.

***

Cerita tentang Rani di atas sebenarnya fiksi. Berawal dari seorang rantauan yang merindukan pelukan seorang ibu. Sosok yang sangat kuat, mengorbankan waktu dan mengurus semuanya; mulai dari menjadi istri yang baik, mengurus anak, menjadi wanita career eight to five, memasak, mencuci, dan segala macam pekerjaan berat yang di tanggungnya.


Sosok yang bahkan menyembunyikan air matanya dari dunia dan memilih mencurahkannya di atas sajadah. Sosok yang akan selalu mengerti apa yang ada di hati dan pikiran anaknya. Sosok yang bahkan tetap mendoakan anaknya walaupun anak itu menyakiti hatinya. Sosok mulia yang Allah ciptakan dengan surga di telapak kakinya. Sosok yang mempunyai senyum dan pelukan yang hangat. Ibu J


No comments: