Hai!
Perkenalkan, aku adalah… oh, tidak tidak! Tidak penting siapa aku, yang ingin
kuceritakan adalah orang lain. Aku biasa memanggilnya si Bodoh. Hei! Aku punya
alasan memanggilnya seperti itu. Semenjak mengenalnya–saat bertemu cinta
pertamaku dan membuatnya menjadi sedikit sulit dan rumit berkatnya, terima
kasih kawan!–ia selalu melakukan hal-hal bodoh yang menyakiti dirinya sendiri
dan membuat aku pusing karena memikirkannya.
Oke, salahku
terlalu menghawatirkannya. Entahlah, si Bodoh ini adalah teman, sekaligus
sahabat, sekaligus teman diskusi yang hebat, sekaligus partner berantemku
dikala kebodohannya meningkat 50%, dan juga musuhku. Rumit ya? Hahaha akupun
terlalu bingung mendefinisikan kata ‘kita’ diantara kami berdua.
Dan sepertinya
aku sudah tertular kebodohannya secara perlahan. Ah! Efek sering bersamanya aku
pikir. Seperti hari ini, ia kembali melakukan hal bodoh lagi. Apasih maunya?
“Bodoh! Apa yang
kamu lakukan?” jeritku sambil menarik lengannya untuk tetap disini.
Ia menepis
lenganku dengan kasar, “Kamu tahu betul apa yang akan aku lakukan. Apa
masalahmu?” desisnya.
Aku menarik
napas panjang, berusaha menenangkan diriku yang sudah mulai terbawa emosi,
“Sampai kapan kamu akan melakukan itu? Kamu nggak sayang sama diri kamu
sendiri?”
Ia terdiam,
memandangku dengan pandangan kosong. Seperti tidak berminat mendengarkan
ocehanku yang entah ke berapa kalinya. Hei! Coba kalian jadi aku. Kalian pasti
akan berpikir bahwa dia sangat keras kepala!
“Sudah berapa
kali kamu melakukan itu dan setelahnya kamu menyesal? Sudah berapa kali aku
katakan, kamu bodoh! Belum sadar?” lanjutku kesal sambil mengguncang bahunya
berkali-kali. Kesal karena aku begitu menyayanginya. Bahkan ketika ia tidak
menyayangi dirinya sendiri, dengan melakukan hal bodoh itu. Lagi!
“Ya! Aku sadar
ini salah. Aku sadar aku bodoh. Maka ketika aku menangis atau berteriak-teriak
lagi nantinya, abaikan saja.” Ucapnya dingin sambil melepaskan tanganku dari
bahunya, kemudian pergi meninggalkanku dengan rasa yang campur aduk.
Abaikan saja katamu? Bodoh! Mana bisa aku
seperti itu padamu?
***
Sore itu hujan,
disaat aku sedang duduk sendiri di depan parkiran kampus yang sudah sepi. Sudah
seminggu semenjak pertengkaran aku dengannya terjadi. Entah dimana dia
sekarang. Aku (berusaha) tidak peduli.
Tiba-tiba dari
arah belakang ada yang menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh dan mendapati
dia dengan mata yang merah dan wajah yang agak tirus.
Oh Tuhan, dia kenapa lagi?
Ia duduk di
sebelahku. Aku hanya terdiam, kembali memandang hujan yang tidak kunjung mereda.
Mulutku seolah terkunci dan menelan kembali semua pertanyaan yang ingin aku
ajukan padanya. Aku hanya ingin menunggunya bercerita. Bercerita apa yang hanya
ingin dia ceritakan. Tanpa harus ditanya atau dipaksa menjawab.
“Kamu benar,”
ucapnya mengalahkan suara hujan.
Aku menoleh,
masih terdiam dengan pandangan bertanya.
“Kamu benar.
Lagi-lagi kamu benar. Aku bodoh telah melakukannya lagi. Aku salah tidak
mendengarkanmu.” Ia menunduk, sepertinya menahan tangis yang sudah diujung
mata. “Tapi…” lanjutnya menggantung.
“Tapi apa?”
tanyaku.
Ia tertawa,
getir. “Entahlah, sepertinya aku akan melakukannya lagi.”
Aku terkejut
dengan apa yang dia ucapkan. Dia itu putus asa atau apasih?
“Apa? Hentikan!
Kenapa harus ragu?” ujarku setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan
yang semakin deras. “Mau sampai kapan kamu seperti ini?” lanjutku kesal, heran
dengan jalan pikirannya yang rumit.
Ia menghela
napas panjang, “Entahlah, selalu ada alasan untuk kembali. Selalu ada alasan
untuk melakukannya lagi.” Ucapnya lirih.
Aku memandangnya
dengan kesal kemudian berdiri, berniat meninggalkannya. Meninggalkan dengan
segala kebodohan dan kepala batunya yang semakin hari makin mengeras.
Tiba-tiba ia
mengamit tanganku, “Mau kemana?” tanyanya.
“Pergi. Aku
capek melihat kebodohanmu yang tak kunjung berkurang,” ucapku dengan tatapan
sebal. “Aku tidak mau peduli lagi. Terserah kamu mau melakukan apa.” Lanjutku.
Ia tertawa,
“Tidak mungkin kamu tidak peduli atas apa yang aku lakukan.” Ucapnya sambil
tersenyum menggodaku.
Sial!
*Selesai*
Hai pembaca!
Bagaimana hasil tulisanku disaat kerandoman menyerang dengan keji? Bagus? Aneh?
Hahaha
Yah, dengan
sedikit bumbu berlebihan ala teenlit
supaya seru dan penuh intrik hehehe
Menurutmu
siapakah pemeran ‘Aku’ dan siapakah pemeran ‘Dia’ dalam cerpen di atas? Cewek
dengan cowok? Cewek dengan cewek? Atau cowok dengan cowok?
Perkenalkan,
mereka adalah dua makhluk berbeda yang diciptakan untuk saling bersama.
Seringnya mereka tidak sejalan, selalu berlawanan, selalu bertengkar, dan tidak
pernah akur. Tapi hebatnya, mereka saling melengkapi. Si ‘Aku’ adalah Logika
dan si ‘Dia’ adalah Perasaan. Sudah kenal dengan mereka?
Oke,
pertanyaannya adalah siapa yang biasanya menang dalam pertengkaran yang terjadi
pada dirimu?
Sumber gambar: http://realislestaryamalia.blogspot.com/
***
“Suara apa itu
ribut-ribut? Aku pusing mendengarnya.” tanyaku pada seluruh organ tubuh.
“Logika dan
Perasaan bertengkar lagi.” Jawab si Otak.
“Lagi?” tanyaku
bosan. “Baiklah aku mau tidur dulu. Bangunkan aku ketika mereka sudah selesai.”
Lanjutku.
.jpg)
No comments:
Post a Comment