Tuesday, March 18, 2014

Aku dan Si Bodoh

Hai! Perkenalkan, aku adalah… oh, tidak tidak! Tidak penting siapa aku, yang ingin kuceritakan adalah orang lain. Aku biasa memanggilnya si Bodoh. Hei! Aku punya alasan memanggilnya seperti itu. Semenjak mengenalnya–saat bertemu cinta pertamaku dan membuatnya menjadi sedikit sulit dan rumit berkatnya, terima kasih kawan!–ia selalu melakukan hal-hal bodoh yang menyakiti dirinya sendiri dan membuat aku pusing karena memikirkannya.

Oke, salahku terlalu menghawatirkannya. Entahlah, si Bodoh ini adalah teman, sekaligus sahabat, sekaligus teman diskusi yang hebat, sekaligus partner berantemku dikala kebodohannya meningkat 50%, dan juga musuhku. Rumit ya? Hahaha akupun terlalu bingung mendefinisikan kata ‘kita’ diantara kami berdua.

Dan sepertinya aku sudah tertular kebodohannya secara perlahan. Ah! Efek sering bersamanya aku pikir. Seperti hari ini, ia kembali melakukan hal bodoh lagi. Apasih maunya?

“Bodoh! Apa yang kamu lakukan?” jeritku sambil menarik lengannya untuk tetap disini.

Ia menepis lenganku dengan kasar, “Kamu tahu betul apa yang akan aku lakukan. Apa masalahmu?” desisnya.

Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diriku yang sudah mulai terbawa emosi, “Sampai kapan kamu akan melakukan itu? Kamu nggak sayang sama diri kamu sendiri?”

Ia terdiam, memandangku dengan pandangan kosong. Seperti tidak berminat mendengarkan ocehanku yang entah ke berapa kalinya. Hei! Coba kalian jadi aku. Kalian pasti akan berpikir bahwa dia sangat keras kepala!

“Sudah berapa kali kamu melakukan itu dan setelahnya kamu menyesal? Sudah berapa kali aku katakan, kamu bodoh! Belum sadar?” lanjutku kesal sambil mengguncang bahunya berkali-kali. Kesal karena aku begitu menyayanginya. Bahkan ketika ia tidak menyayangi dirinya sendiri, dengan melakukan hal bodoh itu. Lagi!

“Ya! Aku sadar ini salah. Aku sadar aku bodoh. Maka ketika aku menangis atau berteriak-teriak lagi nantinya, abaikan saja.” Ucapnya dingin sambil melepaskan tanganku dari bahunya, kemudian pergi meninggalkanku dengan rasa yang campur aduk.

Abaikan saja katamu? Bodoh! Mana bisa aku seperti itu padamu?

***
Sore itu hujan, disaat aku sedang duduk sendiri di depan parkiran kampus yang sudah sepi. Sudah seminggu semenjak pertengkaran aku dengannya terjadi. Entah dimana dia sekarang. Aku (berusaha) tidak peduli.

Tiba-tiba dari arah belakang ada yang menepuk pundakku dengan pelan. Aku menoleh dan mendapati dia dengan mata yang merah dan wajah yang agak tirus.

Oh Tuhan, dia kenapa lagi?

Ia duduk di sebelahku. Aku hanya terdiam, kembali memandang hujan yang tidak kunjung mereda. Mulutku seolah terkunci dan menelan kembali semua pertanyaan yang ingin aku ajukan padanya. Aku hanya ingin menunggunya bercerita. Bercerita apa yang hanya ingin dia ceritakan. Tanpa harus ditanya atau dipaksa menjawab.

“Kamu benar,” ucapnya mengalahkan suara hujan.

Aku menoleh, masih terdiam dengan pandangan bertanya.

“Kamu benar. Lagi-lagi kamu benar. Aku bodoh telah melakukannya lagi. Aku salah tidak mendengarkanmu.” Ia menunduk, sepertinya menahan tangis yang sudah diujung mata. “Tapi…” lanjutnya menggantung.

“Tapi apa?” tanyaku.

Ia tertawa, getir. “Entahlah, sepertinya aku akan melakukannya lagi.”

Aku terkejut dengan apa yang dia ucapkan. Dia itu putus asa atau apasih?

“Apa? Hentikan! Kenapa harus ragu?” ujarku setengah berteriak, berusaha mengalahkan suara hujan yang semakin deras. “Mau sampai kapan kamu seperti ini?” lanjutku kesal, heran dengan jalan pikirannya yang rumit.

Ia menghela napas panjang, “Entahlah, selalu ada alasan untuk kembali. Selalu ada alasan untuk melakukannya lagi.” Ucapnya lirih.

Aku memandangnya dengan kesal kemudian berdiri, berniat meninggalkannya. Meninggalkan dengan segala kebodohan dan kepala batunya yang semakin hari makin mengeras.

Tiba-tiba ia mengamit tanganku, “Mau kemana?” tanyanya.

“Pergi. Aku capek melihat kebodohanmu yang tak kunjung berkurang,” ucapku dengan tatapan sebal. “Aku tidak mau peduli lagi. Terserah kamu mau melakukan apa.” Lanjutku.

Ia tertawa, “Tidak mungkin kamu tidak peduli atas apa yang aku lakukan.” Ucapnya sambil tersenyum menggodaku.

Sial!

*Selesai*

Hai pembaca! Bagaimana hasil tulisanku disaat kerandoman menyerang dengan keji? Bagus? Aneh? Hahaha

Yah, dengan sedikit bumbu berlebihan ala teenlit supaya seru dan penuh intrik hehehe

Menurutmu siapakah pemeran ‘Aku’ dan siapakah pemeran ‘Dia’ dalam cerpen di atas? Cewek dengan cowok? Cewek dengan cewek? Atau cowok dengan cowok?

Perkenalkan, mereka adalah dua makhluk berbeda yang diciptakan untuk saling bersama. Seringnya mereka tidak sejalan, selalu berlawanan, selalu bertengkar, dan tidak pernah akur. Tapi hebatnya, mereka saling melengkapi. Si ‘Aku’ adalah Logika dan si ‘Dia’ adalah Perasaan. Sudah kenal dengan mereka?

Oke, pertanyaannya adalah siapa yang biasanya menang dalam pertengkaran yang terjadi pada dirimu?



***

“Suara apa itu ribut-ribut? Aku pusing mendengarnya.” tanyaku pada seluruh organ tubuh.

“Logika dan Perasaan bertengkar lagi.” Jawab si Otak.


“Lagi?” tanyaku bosan. “Baiklah aku mau tidur dulu. Bangunkan aku ketika mereka sudah selesai.” Lanjutku.

No comments: