Wednesday, May 14, 2014

Sekotak Kenangan

Aku menatap kamarku dengan pandangan putus asa. Entahlah, ini masih layak disebut kamar atau kandang kuda. Aku tidak peduli, yang jelas aku harus membereskan semua kekacauan ini secepat mungkin.
“Oke, kita mulai dari buku.” Ucapku sambil bergegas membereskan buku yang aku tumpuk dengan asal setelah mengerjakan tugas maupun laporan praktikum. Setelah perbukuan beres, aku beralih ke lemari yang berisi baju-baju yang entah itu terlipat atau digulung atau ditaruh begitu saja.
Aku menghela napas panjang, “Argh! Perempuan macam apa aku ini?”
Dengan semangat juang, aku mengeluarkan semua bajuku dari lemari. Namun, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak asing di dalam lemari yang sudah hampir kosong. Tepat disudut kanan bagian paling bawah aku menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Aku termenung sesaat, lalu mengambilnya dengan hati-hati.
Aku meraba ukiran yang menghiasi kotak kayu itu di empat sisinya. Masih ukiran yang sama semenjak satu tahun aku tidak melihatnya atau berusaha menyembunyikannya dari pandanganku. Aku menggoncang-goncangkannya sedikit dan mendengar bunyi berbagai benda dari dalam sana. Buru-buru aku langsung mengambil dompet dan mencari kunci kuningan kecil yang sudah kusam dan sedikit berkarat. Sesaat aku ragu, namun aku tetap membuka gembok kecil tersebut dengan kunci yang kutemukan.
Klik! terbuka.
Aku membuka kotak itu dengan hati-hati dan perasaanku langsung campur aduk begitu kotak itu sukses terbuka. Lucu, kangen, senang, sedih, miris, campur aduk menjadi satu yang mungkin bisa diwakilkan dengan kata sesak.
Aku mengambil lembaran foto yang berada di urutan teratas. Ini fotoku, foto kami berdua. Foto yang diambil pertama kali saat aku mulai akrab dengannya. Di foto itu, aku tersenyum sambil mengangkat kedua tanganku yang memegang kertas berukuran A4 bertuliskan “SUMPAH AKU CANTIK!” kontras dengannya yang hanya memandang kamera dengan tatapan lurus dan senyum miringnya–berusaha menahan tawa akibat ulahku–khasnya. Aku tersenyum, teringat kejadian konyol di malam itu, hingga akhirnya aku bisa foto berdua dengannya.
Pandanganku kembali pada kotak kayu kecil itu dan menemukan setumpuk kertas warna-warni. Dulu aku menyebut kertas-kertas itu dengan panggilan, Surat yang Tak Pernah Tersampaikan. Yap! Itu adalah surat-surat yang aku tulis untuknya ketika aku rindu, galau, resah, cemburu, marah, senang, dan semua perasaan yang aku rasakan saat bersamanya. Semua aku tulis dalam kertas itu. Sayang, keberanianku hanya sampai menulis saja, tanpa memberikan langsung kepadanya.
Aku menghitung jumlah kertas yang aku pegang. “Wow! 15 tulisan,” gumamku kagum. Betapa produktifnya tulisan-tulisan yang aku hasilkan saat dekat dengannya.
Satu persatu aku membaca surat itu hingga habis. Sesaat aku dibuat tertawa melihat kekonyolanku dalam berpuitis ria, mencoba membuat prosa di semua surat tersebut. Tapi sesaat kemudian aku dibuat sesak, karena memori tentangnya mulai melintas dan menguasai pikiranku dengan paksa.
Aku masih ingat saat mulai dekat dengannya. Aku masih ingat saat ia tertawa karena kekonyolan yang aku buat. Aku masih ingat degup jantung yang aku rasakan saat didekatnya. Aku masih ingat saat ia memberiku gelang berwarna biru tua yang sampai sekarang masih aku pakai dan tak pernah ku lepas. Aku masih ingat semuanya.
Aku kagum pada diriku sendiri yang begitu hebatnya merekam semua detik yang pernah aku habiskan bersamanya. Mungkin lebih tepatnya mengutuk diriku sendiri karena ‘kemampuan hebat’ yang aku punya. Tapi sungguh, aku tidak pernah menyalahkannya telah hadir dalam hidupku dan membuatku susah melupakannya hingga saat ini.
Namun, pada akhirnya aku memilih untuk menyimpan semua perasaanku pada kotak kayu ini. Kotak yang aku sembunyikan dari dunia dan bahkan diriku sendiri. Aku memilih melupakannya, karena ia memilih untuk bersama dengan orang lain.
“Tunggu! Tadi apa yang baru saja aku pikirkan? Ia memilih untuk bersama dengan orang lain? Ya ampun, memang sejak kapan aku masuk dalam daftar pilihannya?” ujarku skeptis, sambil menaruh foto dan surat-surat dalam kotak kayu tersebut, lalu kemudian kembali menguncinya.
***
“Kamu akan tetap disana. Didalam kotak kayu kecil yang ku simpan di sudut kanan, di sisi tergelap hatiku.”
Jatinangor, 31 Maret 2013 21.45 WIB
Diantara laporan praktikum yang bertumpuk-tumpuk

1 comment:

Unknown said...

masya allah ... galau baanggett