Aku menatap kamarku dengan pandangan putus asa.
Entahlah, ini masih layak disebut kamar atau kandang kuda. Aku tidak peduli,
yang jelas aku harus membereskan semua kekacauan ini secepat mungkin.
“Oke, kita mulai dari buku.” Ucapku sambil bergegas
membereskan buku yang aku tumpuk dengan asal setelah mengerjakan tugas maupun
laporan praktikum. Setelah perbukuan beres, aku beralih ke lemari yang berisi
baju-baju yang entah itu terlipat atau digulung atau ditaruh begitu saja.
Aku menghela napas panjang, “Argh! Perempuan macam
apa aku ini?”
Dengan semangat juang, aku mengeluarkan semua bajuku
dari lemari. Namun, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak asing di dalam
lemari yang sudah hampir kosong. Tepat disudut kanan bagian paling bawah aku menemukan
sebuah kotak kayu kecil yang terkunci. Aku termenung sesaat, lalu mengambilnya
dengan hati-hati.
Aku meraba ukiran yang menghiasi kotak kayu itu di
empat sisinya. Masih ukiran yang sama semenjak satu tahun aku tidak melihatnya
atau berusaha menyembunyikannya dari pandanganku. Aku menggoncang-goncangkannya
sedikit dan mendengar bunyi berbagai benda dari dalam sana. Buru-buru aku
langsung mengambil dompet dan mencari kunci kuningan kecil yang sudah kusam dan
sedikit berkarat. Sesaat aku ragu, namun aku tetap membuka gembok kecil
tersebut dengan kunci yang kutemukan.
Klik! terbuka.
Aku membuka kotak itu dengan hati-hati dan
perasaanku langsung campur aduk begitu kotak itu sukses terbuka. Lucu, kangen,
senang, sedih, miris, campur aduk menjadi satu yang mungkin bisa diwakilkan
dengan kata sesak.
Aku mengambil lembaran foto yang berada di urutan
teratas. Ini fotoku, foto kami berdua. Foto yang diambil pertama kali saat aku
mulai akrab dengannya. Di foto itu, aku tersenyum sambil mengangkat kedua
tanganku yang memegang kertas berukuran A4 bertuliskan “SUMPAH AKU CANTIK!”
kontras dengannya yang hanya memandang kamera dengan tatapan lurus dan senyum
miringnya–berusaha menahan tawa akibat ulahku–khasnya. Aku tersenyum, teringat
kejadian konyol di malam itu, hingga akhirnya aku bisa foto berdua dengannya.
Pandanganku kembali pada kotak kayu kecil itu dan
menemukan setumpuk kertas warna-warni. Dulu aku menyebut kertas-kertas itu
dengan panggilan, Surat yang Tak Pernah Tersampaikan. Yap! Itu adalah
surat-surat yang aku tulis untuknya ketika aku rindu, galau, resah, cemburu,
marah, senang, dan semua perasaan yang aku rasakan saat bersamanya. Semua aku
tulis dalam kertas itu. Sayang, keberanianku hanya sampai menulis saja, tanpa
memberikan langsung kepadanya.
Aku menghitung jumlah kertas yang aku pegang. “Wow!
15 tulisan,” gumamku kagum. Betapa produktifnya tulisan-tulisan yang aku
hasilkan saat dekat dengannya.
Satu persatu aku membaca surat itu hingga habis.
Sesaat aku dibuat tertawa melihat kekonyolanku dalam berpuitis ria, mencoba membuat
prosa di semua surat tersebut. Tapi sesaat kemudian aku dibuat sesak, karena
memori tentangnya mulai melintas dan menguasai pikiranku dengan paksa.
Aku masih ingat saat mulai dekat dengannya. Aku
masih ingat saat ia tertawa karena kekonyolan yang aku buat. Aku masih ingat
degup jantung yang aku rasakan saat didekatnya. Aku masih ingat saat ia
memberiku gelang berwarna biru tua yang sampai sekarang masih aku pakai dan tak
pernah ku lepas. Aku masih ingat semuanya.
Aku kagum pada diriku sendiri yang begitu hebatnya
merekam semua detik yang pernah aku habiskan bersamanya. Mungkin lebih tepatnya
mengutuk diriku sendiri karena ‘kemampuan hebat’ yang aku punya. Tapi sungguh,
aku tidak pernah menyalahkannya telah hadir dalam hidupku dan membuatku susah
melupakannya hingga saat ini.
Namun, pada akhirnya aku memilih untuk menyimpan
semua perasaanku pada kotak kayu ini. Kotak yang aku sembunyikan dari dunia dan
bahkan diriku sendiri. Aku memilih melupakannya, karena ia memilih untuk
bersama dengan orang lain.
“Tunggu! Tadi apa yang baru saja aku pikirkan? Ia
memilih untuk bersama dengan orang lain? Ya ampun, memang sejak kapan aku masuk
dalam daftar pilihannya?” ujarku skeptis, sambil menaruh foto dan surat-surat
dalam kotak kayu tersebut, lalu kemudian kembali menguncinya.
***
“Kamu akan tetap disana. Didalam kotak kayu kecil
yang ku simpan di sudut kanan, di sisi tergelap hatiku.”
Jatinangor, 31 Maret
2013 21.45 WIB
Diantara laporan
praktikum yang bertumpuk-tumpuk
1 comment:
masya allah ... galau baanggett
Post a Comment