Monday, February 23, 2015

Halo Tuan..


Halo Tuan! Apa kabarmu? Aku harap baik. Maaf aku tak sempat menanyakannya kemarin atau sekedar menyapamu atau sekedar basa-basi. Aku terlalu takut. Takut jika aku menyapamu dan kamu tersenyum, aku akan jatuh cinta lagi oleh senyummu itu. Takut jika aku bicara denganmu, aku tak tahan tidak bercerita apa-apa saja yang sudah aku alami semenjak terakhir kita bicara.

Semoga kamu tidak bosan, karena di tulisan ini aku akan bercerita banyak hal padamu. Salah satunya adalah beratku naik 4 kg. Kamu tahu? Setelah aku menimbang aku langsung teriak-teriak kegirangan, berharap timbangan itu tidak rusak, dan semakin semangat makan apapun hahaha. Oh iya, aku juga sudah menyimpan stok kopi di kosanku, khusus untuk menemaniku bergadang. Lalu aku juga membuat dua alarm di kedua handphone-ku supaya kamu tak perlu menelponku lagi untuk membantuku bangun di pagi buta, karena kedua alarm itu sudah cukup mengagetkan dan membuat jantungku berdegup kencang, walaupun degupnya tak sama.

Ah ya, beberapa hari belakangan ini aku seperti orang gila. Sial! Dimana-mana ada kamu. Di kosanku ada dua bukumu yang aku pinjam. Untung saja buku pemberianmu semuanya aku pinjamkan, jadi tidak terlalu banyak kamu muncul di kepalaku hanya karena buku-bukumu. Makan telur ingat kamu, hanya karena aku ingat kamu tak suka bagian kuningnya. Lihat emoticon di WhatsApp ingat kamu. Bahkan semesta seperti bekerja sama mengingatkan aku tentang kamu, jika hujan atau senja atau melihat bulan, aku selalu ingat kamu. Saat tidurpun aku memimpikanmu. Dan sialnya Jatinangor terlalu sempit dimana tiap sudutnya sudah aku datangi bersama (lagi-lagi) kamu, jadi wajar saja jika kemanapun aku pergi selalu ingat kamu. Haish! Kamu terlalu banyak menjajah memori di kepalaku. Lama-kelamaan aku bisa saja menciptakan lagu tandingan Evie Tamala yang judulnya Aku Rindu Padamu.

Tenang Tuan, aku tidak akan selamanya mengalami kegilaan seperti yang aku ceritakan di atas. Aku hanya sedang belajar membiasakan diri tanpa kamu. Tanpa suaramu yang hebatnya bisa ku putar kapanpun di kepalaku atau tanpa pesan-pesanmu yang membuatku kuat bergadang hingga jam 3 pagi atau tanpa ledekan-ledekan konyolmu yang menyebalkan tapi ternyata ku rindukan. Selama ini aku hanya terlalu terbiasa dengan kamu, jadi butuh waktu untuk membiasakan diri tanpamu. Sekarang aku tanya, apakah kamu segila itu? Semoga tidak, dan seharusnya jangan.

Ini mungkin tulisan terakhirku (yang aku seriuskan dan aku posting di blog) untukmu Tuan. Bukan! Bukan karena aku tak mau menulis tentang kamu lagi, kamu kan inspirasiku. Hanya saja, kamu tahu kan segila apa kuliahku saat ini? Mungkin jika kamu ingin tahu apakah aku merindukanmu tunggulah saat hujan, maka ia akan memainkan nada rinduku untukmu sepaket dengan kenangannya yang menggenang. Atau saat senja yang jingganya berbaur dengan langit malamnya, favoritku. Atau saat ada rembulan yang terkungkung awan mendung di langit sana, kesukaanku dan kamu. Karena semesta akan selalu tahu saat aku merindukanmu dan membantuku untuk memberi tahumu.

"It might not be the happiest ending, but it is the right one." - Anonymous.

No comments: