Halo Tuan! Apa
kabarmu? Aku harap baik. Maaf aku tak sempat menanyakannya kemarin atau sekedar
menyapamu atau sekedar basa-basi. Aku terlalu takut. Takut jika aku menyapamu
dan kamu tersenyum, aku akan jatuh cinta lagi oleh senyummu itu. Takut jika aku
bicara denganmu, aku tak tahan tidak bercerita apa-apa saja yang sudah aku
alami semenjak terakhir kita bicara.
Semoga kamu tidak
bosan, karena di tulisan ini aku akan bercerita banyak hal padamu. Salah
satunya adalah beratku naik 4 kg. Kamu tahu? Setelah aku menimbang aku langsung
teriak-teriak kegirangan, berharap timbangan itu tidak rusak, dan semakin
semangat makan apapun hahaha. Oh iya, aku juga sudah menyimpan stok kopi di
kosanku, khusus untuk menemaniku bergadang. Lalu aku juga membuat dua alarm di
kedua handphone-ku supaya kamu tak perlu
menelponku lagi untuk membantuku bangun di pagi buta, karena kedua alarm itu
sudah cukup mengagetkan dan membuat jantungku berdegup kencang, walaupun
degupnya tak sama.
Ah ya, beberapa hari
belakangan ini aku seperti orang gila. Sial! Dimana-mana ada kamu. Di kosanku
ada dua bukumu yang aku pinjam. Untung saja buku pemberianmu semuanya aku
pinjamkan, jadi tidak terlalu banyak kamu muncul di kepalaku hanya karena
buku-bukumu. Makan telur ingat kamu, hanya karena aku ingat kamu tak suka
bagian kuningnya. Lihat emoticon di WhatsApp ingat kamu. Bahkan semesta seperti
bekerja sama mengingatkan aku tentang kamu, jika hujan atau senja atau melihat
bulan, aku selalu ingat kamu. Saat tidurpun aku memimpikanmu. Dan sialnya
Jatinangor terlalu sempit dimana tiap sudutnya sudah aku datangi bersama
(lagi-lagi) kamu, jadi wajar saja jika kemanapun aku pergi selalu ingat kamu.
Haish! Kamu terlalu banyak menjajah memori di kepalaku. Lama-kelamaan aku bisa
saja menciptakan lagu tandingan Evie Tamala yang judulnya Aku Rindu Padamu.
Tenang Tuan, aku
tidak akan selamanya mengalami kegilaan seperti yang aku ceritakan di atas. Aku
hanya sedang belajar membiasakan diri tanpa kamu. Tanpa suaramu yang hebatnya
bisa ku putar kapanpun di kepalaku atau tanpa pesan-pesanmu yang membuatku kuat
bergadang hingga jam 3 pagi atau tanpa ledekan-ledekan konyolmu yang
menyebalkan tapi ternyata ku rindukan. Selama ini aku hanya terlalu terbiasa
dengan kamu, jadi butuh waktu untuk membiasakan diri tanpamu. Sekarang aku
tanya, apakah kamu segila itu? Semoga tidak, dan seharusnya jangan.
Ini mungkin tulisan
terakhirku (yang aku seriuskan dan aku posting
di blog) untukmu Tuan. Bukan! Bukan karena aku tak mau menulis tentang kamu
lagi, kamu kan inspirasiku. Hanya saja, kamu tahu kan segila apa kuliahku saat
ini? Mungkin jika kamu ingin tahu apakah aku merindukanmu tunggulah saat hujan,
maka ia akan memainkan nada rinduku untukmu sepaket dengan kenangannya yang
menggenang. Atau saat senja yang jingganya berbaur dengan langit malamnya,
favoritku. Atau saat ada rembulan yang terkungkung awan mendung di langit sana,
kesukaanku dan kamu. Karena semesta akan selalu tahu saat aku merindukanmu dan
membantuku untuk memberi tahumu.
"It might not be the happiest ending, but it is the right one." - Anonymous.
No comments:
Post a Comment